Jumat, 03 Juli 2015

Kau Seperti Bintang Yang Jauh

Disebuah ruangan yang cukup ramai, ku lirik sekitar ruangan itu. Sebagian orang sedang asik mengobrol, ada juga yang sedang belajar. Beginilah suasana kelasku, tentunya saat jam istirahat. Aku duduk tepat di bangku bariasan paling depan sebelah pintu masuk, sekali lagi ku pandangi penghuni kelas ini, kulihat ada sosok disudut kelas, sosok laki-laki yang sangat aku kenal, terlihat dia sedang memainkan handphone.
Hey aku sedang memperhatikanmu, apa kau menyadarinya? Kurasa tidak, mungkin benda yang kau mainkan jauh lebih menarik dan berharga dari pada membalas tatapan perhatianku. Ah lagi pula kenapa dia harus memandangku? memang siapa aku? mungkin sekarang sudah sebatas teman. Sosok yang sangat kukenal, yang sempat memberikan sedikit kebahagiaan, yang membuat aku menampilkan garis senyuman, seseorang yang pernah memberikanku seutas tali ikatan dan pada akhirnya ia yang memutuskan. Sebuah kisah cinta yang singkat, namun didalamnya ada butir-butir kasih sayang yang tak bisa kulupakan.
Hembusan angin sore yang lembut, terpaan sinar matahari yang hangat, pemandangan nan indah, alang-alang bak menari dihadapanku. Mungkin itu gambaran untuk perasaanku saat pertama kali mengenalmu. Sangat damai, begitu nyaman, wajahku pun tak luput memperlihatkan senyuman termanisnya. Sejak saat itulah dirimu masuk kedalam pikiranku, bukan itu saja, kau juga sudah mengubah hidupku. Apakah itu tidak keterlaluan ? kenapa tidak, semua itu membuatku bahagia… kebahagian kecil yang membuat perubahan besar pada diriku.
Namun itu semua tak berlangsung lama, hubungan kita renggang karena seorang wanita. Aku tak menyalahkan wanita itu, tapi kau.. aku menyalahkan kau yang mengikuti wanita itu. Kau berjalan bersamanya saat aku tak ada disampingmu, kau selalu menatapnya yang saat itu akulah yang sedang menatapmu. Dihatiku terlihat goresan kecil, sangat kecil, namun sakit, begitu sakit. Tega sekali kau mempermainkanku, kau hanya seorang laki-laki yang pintar, pintar membuat janji, namun begitu bodoh untuk menepatinya.
Apa aku menyesal ? tidak. Aku sama sekali tak menyesal mencintaimu. Namun aku menyesal karena tak bisa menjaga cintamu, cintamu yang mudah pudar karena wanita lain. Kini aku hanya bisa memandangmu, terlihat dekat namun begitu jauh. Dirimu yang saat ini berada satu ruangan denganku yang begitu dekat, namun berbeda dengan hati kita yang serasa sangat jauh, begitu jauh sampai aku tak bisa menggapainya lagi.
Dirimu bagiku saat ini hanyalah sebuah bintang. Sebuah bintang dilangit, yang begitu terang, begitu indah yang hanya dapat dilihat namun tak akan pernah bisa digapai.